Pengantin
Pegon; Pengantin Khas Surabaya
Surabaya, semenjak ratusan tahun yang lalu dikenal
sebagai daerah maritim. Sebelum terbentuk menjadi kota, Surabaya telah menjadi
wilayah atau daerah yang memiliki pelabuhan yang besar di ujung timur pulau
Jawa. Pelabuhan ini banyak didatangi oleh pedagang atau saudagar di seluruh
dunia. Kebanyakan untuk berdagang meski ada yang hanya singgah sejenak.
Oleh karena itu Surabaya memiliki tingkat akulturasi budaya
yang sangat tinggi. Pertemuan orang2dari berbagai bangsa cukup memberikan warna
yang signifikan kepada karakter orang Surabaya. Sebagian dari pedagang yang
datang malah ada yang memutuskan untuk menetap. Sebagian juga ada yang menikah
dengan orang Surabaya asli. Oleh karena itu tidak heran jika di Surabaya bisa
ditemui perkampungan2penduduk yang berasal dari suku yang berbeda dari penduduk
aslinya. Seperti perkampungan Arab di Ampel dan perkampungan Cina di wilayah
Kembang Jepun.
Tidak banyak yang tahu bahwa di Surabaya dulu pernah berdiri
sebuah kerajaan. Kerajaan tersebut didirikan oleh orang2Raden Wijaya yang
melarikan diri dari Majapahit yang terletak di Mojokerto. Sebagian lainnya dari
orang2Raden Wijaya juga melarikan diri ke Madura dan mendirikan kerajaan Madura
di Sumenep. Kerajaan Surabaya ini memang tidak banyak diketahui kisahnya namun
peninggalannya masih ada beberapa sampai sekarang. Bukan bentuk bangunan namun
penanda sebuah wilayah yang dijadikan nama jalan di tempat yang diperkirakan
sekitar lokasi Kerajaan tersebut berdiri.
Buat kalian yang ngaku orang Surabaya asli pasti tau daerah
yang bernama Jalan Jagalan, Jalan Kepatihan, dan alun2kerajaan berada di
wilayah Kramat Gantung. Kerajaan Surabaya memang diyakini berada di wilayah
antara Kramat Gantung, Blauran, hingga ke Peneleh.
Kenapa saya merasa penting menceritakan tentang Kerajaan Surabaya?
karena dari sanalah cikal bakal adanya pengantin pegon. Sama seperti keberadaan
kerajaan Surabaya yang tidak banyak diketahui oleh sebagian besar masyarakat
kota Surabaya sendiri, pengantin pegon juga mengalami nasib yang sama. Banyak
pernikahan yang diselenggarakan oleh orang Surabaya yang menggunakan adat Jawa
namun mengacu kepada ada Jawa Jogja atau Solo Basahan. Padahal sesungguhnya
Surabaya sendiri memiliki adat pernikahan sendiri yang khas yaitu Pengantin
Pegon.
Pengantin pegon karena lahir dari masyarakat pesisir pantai
yang banyak disinggahi oleh pedagang dan saudagar dari seluruh penjuru dunia,
seperti yang saya jelaskan diatas, maka mengalami pengaruh budaya dari berbagai
etnik yang ada dan tinggal di Surabaya masa itu. Pengantin Pegon dipengaruhi
oleh budaya Arab, Cina, Belanda dan kerajaan Surabaya sendiri.
Pada bagian ini saya akan fokus menjelaskan mengenai tata busana
dan rias pengantin pegon. Dari segi busana dan rias pengantin,
busana pengantin pegon memang agak berbeda dengan pengantin Jogja atau
pengantin Solo. Busana pengantin putri terdiri dari rok dan blus lengan panjang
dengan model rok panjang hingga mata kaki, atau sebatas sampai betis serta blus
tidak boleh tembus pandang.
Untuk warna busana, pengantin pegon cenderung berwarna soft
seperti kuning muda, merah muda atau biru muda. Pengantin putri harus
menggunakan sarung tangan yang senada dengan warna busana dan stocking sewarna
kulit. Untuk alas kaki menggunakan sepatu pantofel yang tertutup dan bertumit
tinggi.
Pada bahu kiri dipasang selendang menjuntai ke belakang
dengan panjang sekitar 2 meter dan diatasnya dihiasi korsase. Pengantin putri
juga membawa hand bouquet. Untuk perhiasan yang digunakan adalah perhiasan
kalung kolie permata (sejenis permata yang besar2), anting panjang dengan
permata, gelang dan cincin. Untuk riasan yang digunakan cenderung soft dan
disesuaikan atau senada dengan warna busana yang dikenakan.
Untuk riasan sanggul, rambut pengantin putri dibagi dua, atas
dan bawah. Masing2lantas sebagian dijalin dan sebagian disasak hingga membentuk
bulatan2yang kemudian diatasnya dipasangi cemara. Rambut bagian atas disasak
penuh, dibentuk bulat bagian kiri dan kanan menutup sepertiga daun telinga.
Cemara dibentuk sanggul bulat dari kiri ke kanan.
Sanggul ditutup dengan ronce bunga melati dengan dipasang
sisir melati pada bagian atas sanggul antara kepala dan sanggul. Pada bagian
bawah sanggul dipasang ronce bunga kenangan kuning dengan melati ditengahnya
yang menyambung dengan sisir melatinya. Bunga melati juga dipasang di kanan
kiri sanggul. Sebelah kiri dipasang sebanyak 7 untai melati sepanjang 50 cm dan
sebelah kanan dipasang sebanyak 5 untai melati sepanjang 25 cm.
Ditengah2sanggul dipasang bunga mawar dengan hiasan pinggir
bunga melati. Untuk menutupi sanggul bagian depan dipasang mahkota persis di
dahi atau pada tempat tumbuhnya rambut muda. Jarak antara sanggul dan mahkota
ditutupi juga dengan hiasan bunga mawar. Kemudian dipasang kembang goyang
sebanyak 12 buah, 7 menghadap kedepan dan 5 menghadap kebelakang
Untuk pengantin putra rias dan busananya lebih sederhana.
Pengantin putra menggunakan celana panjang dan jubah, serta topi berbentuk
sorban yang diberi ronce melati sebelah kanan dengan dipasang 2 kembang goyang.
Pengantin pria juga menggunakan alas kaki berupa terompah dan selempang yang
terbuat dari bunga melati (disarikan dari berbagai sumber).
Nah, buat kalian yang ngakunya arek Suroboyo, berminat
menikah dengan menggunakan adat pengantin pegon?;)
Komentar
Posting Komentar